Spiritualitas Bolu Meranti

Terbang di atas Selat Malaka dengan cuaca mendung, tentu jaminan bahwa pesawat akan bergoncang-goncang. Selalu begitulah kejadiannya.

Demikian pula sore ini. QG833 yang aku naiki terjebak dalam dunia abu-abu; kabut asap, awan hujan, campur aduk dan saling menyaru. Kedap-kedip beacon pada wingtip sayap sebelah kanan sampai terlihat samar-samar dari balik jendela 29F.

Dan… tiba-tiba turbulens terasa making kencang. Untunglah tanda kenakan sabuk pengaman masih menyala, hingga tak ada satupun penumpang yang berlalu lalang atau pergi ke toilet…

Lalu, the moment of truth itu pun tiba. Sebuah hentakan yang menjatuhkan pesawat dan segala isinya ke ruang hampa udara… Jatuh dari langit ke dalam jurang tanpa dasar dan tepian. Sepersekian detik yang membuat mulas perut dan jantung rontok berserakan…. (@#$%^&*)

“Tuhan Yesus….. !!!” teriak para penumpang serentak. Nyaring seperti latihan paduan suara Gereja HKBP Pardamean di Medan menjelang koor malam Natal… (dan baru sadar, pesawat ini memang berangkat dari  Medan, bung!).

50% penumpang memejamkan mata seraya merapalkan doa-doa menjemput ajal kematian. 25% lainnya melotot dengan tatapan nanar, seolah-olah sang Kapten Pilot (yang mereka kira bernama Yesus itu tidak becus mengurus laju pesawat ini. Apalagi setelah diteriaki beramai-ramai ia pun tak kunjung menjawab lewat pengeras suara).

24% penumpang lain sepertinya hanya terkaget-kaget karena mereka tadinya sedang tidur. Tidak sepenuhnya paham apa yang menjadi persoalan dan keributan di kabin. Namun melihat kegemparan di dalam maupun di luar pesawat, penumpang di sebelahku (yang masuk dalam golongan 24% itu) pun berseru “Allahu akbar… allahu akbar” diikuti rentetan dzikir seperti tahlilan seribu hari orang meningal dunia.

Seluruh penumpang terkulminasikankan sisi spiritualnya.

Merasa kecil tak seberapa, di kolong semesta berkabut asap abu-abu sialan ini.

Mungkin detik inilah mereka rasakan kedekatan yang paling sangat dengan Sang Pencipta kehidupan. Sedekat urat nadi mereka sendiri. Sedekat kematian yang kadang sekonyong-konyong menghampiri.

Mungkin, melalui lantaran turbulensi yang menghajar pesawat terbang canggih namun tak berdaya, mereka sempat untuk sekelibat mengingat-ingat lagi hal apa yang mereka sesali–dan tak lakukan semasa hidup yang cuma one way ticket ini.

Lalu apa yang dipikirkan oleh 1% orang lainnya di pesawat itu? Aku.

Astaga….  Mampuslah aku! Oleh-oleh Bolu Meranti, risoles panas dan jambu madu-ku… ??! Semua pasti sudah rontok bergelimpangan. Dalam dus berikat rafia merah itu, aku bayangkan mereka sudah bertransformasi menjadi Pokat Kocok Simpang Glugur…. Alamak, tega kali kau Ompu Nabolon…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s