
Sejuknya musim gugur New York menyambut kedatanganku di Wall Street metro station siang itu. Sembilan derajat Celcius. Aroma “green bucks” langsung menyengat. Bukan karena kopi segar freshly brewed dari kedai Starbucks di pojokan Nassau Street tapi karena setiap gedung di Wall Street adalah mesin uang bernilai miliaran dollar yang terus berputar sempurna seperti roda-roda arloji dari Swiss, 24 jam sehari non stop.
Wells Fargo mendominasi setiap persimpangan, dengan kios-kios dan deretan ATM berwarna oranye mentereng. Selintas pandang, kantor JP Morgan Chase yang berwarna biru dan hitam terlihat megah, dengan lobi yang amat lapang, seluas harapan para pendiri Amerika saat diciptakan empat abad lalu. Ratusan perusahaan investasi lainnya pun berkantor disini, mengejar mimpi semiliar dollar dengan harga diri dan integritas sebagai taruhannya.
Wall Street hanyalah sebuah jalan batu bersusun yang terhimpit pusat-pusat keuangan dunia berlantai seratus sekian seakan menggapai langit. Bahkan sinar matahari pun harus berjuang melewati celah-celah rimba raya beton dan kaca di kerajaan para petaruh ini. Namun ia amat digdaya. Hampir dua pertiga uang dunia berputar disini, disedot, dicuci, diperam, dimasak, dibakar dan ditelanjangi. Wall Street adalah rahim kapital sejati.
Di ujung Wall Street, tampak bedera Amerika raksasa dipajang menutup pilar-pilar Corinthian gedung batu bertuliskan New York Stock Exchange. Itulah jantung kota New York. Dari lantai atriumnya, sejumput profit perusahaan multinasional dipakai untuk memberi beasiswa kepada ratusan ribu anak-anak di Afrika, membangun kembali rumah-rumah yang terkena bencana di Haiti serta membantu para ilmuwan meneliti obat penyembuh AIDS. Dan dari sana pula, beberapa negara dibuat bangkrut, rezim di Asia bertumbangan serta 50,000 orang di Chicago kehilangan rumah tinggal sejak terjadi subprime crisis tahun 2008. Demikianlah Wall Street yang gemerlap. Sang ibu suri yang menjadi predator bagi anak-anak dari rahimnya sendiri.
Langkah saya terhenti saat melihat pasangan dengan gaun pengantin berjalan tegopoh-gopoh melintas di keramaian Wall Street siang itu. Di depan etalase Citigroup dengan logo biru muda dan busur panah merah itu mereka berfoto. Lalu mereka beranjak ke arah Broadway diikuti para juru foto dan pengiring yang membawa bucket bunga.
Sepertinya sang mempelai pria adalah broker di Manhattan yang sedang berada di puncak karir dan memutuskan untuk mempersunting sang puteri dari kerajaan bidadari. The lady of his choice. Ia seakan ingin menunjukkan gemerlapnya the Empire State dan betapa beruntungnya sang puteri menikahi sang ksatria.
Uang, mimpi dan kekuasaan. Ya, hal itu melengkapi hipotesisku bahwa Wall Street adalah utopia. Tangled hierarchy between dreams and reality bahkan para pelakunya pun bimbang akan garis batas di antara keduanya. Namun demikian, setidaknya masih ada satu realita yang bisa diungkapkan di Wall Street, cinta.