Ia mengalir tenang menyusur kaki-kaki bukit karst yang anggun menjulang. Warnanya keemasan. Ia memberi kehidupan bagi penduduk yang berdiam ditepiannya. Sebagian dari mereka adalah keturunan suku Hmong yang pemalu dan hidup di pelosok hutan.
Ia bernama Nam Song atau Sungai Nam. Sungai yang menjadi nadi bagi Vang Vieng, sebuah desa yang seolah terlempar dari dunia lain, karena keajaibannya. Vang Vieng adalah backdrop dari foto-foto alam terindah di dunia.
Saat matahari terbit, kabut misterius akan mucul dari sela-sela punggung bukit. Datang dan pergi, seperti selimut putih membalut keanggunan karst yang tak pernah tersentuh jejak kaki manusia.
Di hulunya terdapat riak jeram tempat para petualang menjajal nyali berarung jeram. Semakin ke hilir, ia semakin tenang.
Ini kali kedua kami berjumpa. Vang Vieng amat cantik untuk dilewatkan, walaupun saat ini sudah terlalu ramai dengan pengunjung yang hingar bingar. Dua tahun lalu ia masih sunyi. Hotel terbesar hanyalah tempat aku menginap, the Elephant Crossings, yang setiap balkon nya menghadap hamparan sungai dengan latar belakang gugusan karst yang surreal, seperti jebakan alam mimpi.
Laguna biru, pergi ke istana lebah di puncak bukit karst, tubing dan rafting di lorong-lorong kesunyian belantara Vang Vieng serta cave diving pernah aku lakukan di sana. Bahkan hal tergila dalam hidup pun pernah aku lakukan disini, bungee jumping dan terjun ke derasnya Nam Song, yang dihuni giant cat fish di dalamnya 🙂
Menjelang sore hari, biasanya aku bersepeda keliling kampung, makan di restoran Nasim yang halal, serta mencicipi banana pancake yang khas dijajakan di pinggir-pinggir jalan.
Malam hari paling seru dilewatkan dengan nongkrong di warung-warung lesehan yang menyajikan masakan khas Lao, Beerlao dan ice lao coffee nya yang mantap! tempat bersosialisasi dengan teman tubing atau rafting siang tadi, dan berbagi joke-joke dan kebodohan yang amat mengesankan di sini.
Vang Vieng adalah kampung internasional, tempat segala budaya bertemu. Sayangnya, ia tak memiliki resiliensi yang cukup untuk menjadi diri sendiri dan membendung westernisasi yang mengalir masuk. Desingan house music dan club-club yang menjajakan crack dengan nama “happy” banyak dijumpai di river front. Vang Vieng terdesak habis, tanpa daya.
Namun demikianlah transaksi. Semakin banyak double cabin Mitsubishi dan Hyundai Elantra berkeliaran di jalanan Vang Vieng. Tanda kemajuan ekonomi. Para pemilik hotelpun memanen pundi-pundi rezeki dari turis-tuis yang mengalir masuk. Tak terkecuali orang asing, seperti orang Australia pemilik hotel tempat aku menginap. Vang Vieng tak hanya eksotis alamnya, tapi juga sexy untuk dijadikan lahan pencaharian baru. Akankah ia akan bertahan secantik dulu?


