Traveling and Diplomacy

Sebagian orang Rusia menganggap Indonesia adalah negara Islam, seperti Iran, atau Arab Saudi. Sementara sekelompok orang di Texas mengira Bali bukan wilayah Indonesia, karena di peta mereka hanya terdapat pulau Sumatra, Jawa dan pulau-pulau kecil di selat Malaka merepresentasikan Indonesia. Judul peta tersebut “United States of Indonesia” alias Republik Indonesia Serikat peninggalan tahun 1949.

Terbatasnya publikasi dan diplomasi Indonesia di luar negeri menjadikan nusantara berada dalam blank spot ilmu pengetahuan wisata dunia. Selain masalah infrastuktur, sebagian warga Indonesia maupun traveler Indonesia di luar negeri masih “cuek” dengan tanggung jawab mereka sebagai seorang “citizen diplomat”.

Coba tengok halaman pertama paspor kita, disitu jelas terbaca bahwa Negara Republik Indonesia memohon kepada otoritas negara yang kita datangi untuk memberikan bantuan serta perlindungan selama kita berada di negara tersebut. Klausula tersebut ada dengan tanggung jawab bahwa sebagai pembawa paspor kita semestinya juga berfungsi sebagai wakil Negara.

Pentingnya “citizen diplomacy” juga diangkat dalam sebuah artikel senior traveler idola saya, Daniel Noll dan Audrey Scott dari Amerika, mereka bilang, sebagai seorang ‘diplomat’ bukan berari kita mesti membawa bendera, statistik ataupun buku manual diplomasi luar negeri. Citizen diplomacy adalah “we are open to answering substantive questions about our home country“.

Sehingga pada orang Rusia saat itu pun saya menjawab “Sir, Indonesia is a Moslem majority country, but we have five religions and various religious believes, on top of hundreds of ethnic groups exist in the society. Together we live and we pray, therefore we were and never will regard ourselves an Islamic country.”

Pemahaman yang benar akan mencegah prejudice dan stereotyping. Juga menciptakan kebanggaan, sebagaimana celoteh seorang madam turis dari Filipina dalam sebuah  perahu wisata menuju Perfume Pagoda di utara Vietnam.

“…oh Filipino mango is the bessttt..!!”  ujarnya berapi-api. Beberapa turis Perancis pun berdecak kagum mengangguk. Saya hanya bisa “mesem” membayangkan lusinan varietas mangga lokal dari Jawa beraneka warna di lapak-lapak pasar induk Kramat Jati…

Well, madam.. you seemed to be a good diplomat for your country, but… belanja ke Pasar Induk dulu yuk… (sambil membayangkan si madam pake topi lebar dan hak tinggi… nyaris pingsan di atas tumpukan mangga pasar induk Kramat Jati…).

Leave a comment