Matahari di Timur Iowa City

Oh, Mr Raccoon didn’t make it, Aria“. “Yeah, too bad“.

Kami pun berlalu melanjutkan perjalanan ke arah Barat menuju Pusat Kota Iowa City. Di sisi jalan terlihat bangkai racoon yang mati terlindas kendaraan yang lewat tadi malam.

Selama perjalanan Tom tak banyak berbicara seperti hari-hari sebelumnya. Aku pun demikian. Dari kaca spion terlihat kilauan matahari musim semi yang beranjak dari cakrawala. Ladang-ladang jagung dan okra menyambutnya dengan penuh pengharapan tentunya, setelah musim dingin beku yang selalu tinggal lebih lama di Iowa dan Midwest lainnya.

Sunrise of the chilling Spring in Iowa City.
Sunrise of the chilling Spring in Iowa City.

Perjalanan yang hening.

Bahkan di pusat kotanya pun tak banyak lalu-lalang. Kontras dengan Jakarta yang padat hingga ke ujung-ujung gang di perkampungan.

Sudah sejak enam tahun lalu Tom memimpin kota ini. Membangkitkan semangat dan kehidupan penduduknya yang terpuruk akibat banjir hebat dan tornado tahun 2008. Tangan dinginnya bahkan telah membawa Iowa City sebagai The Most Livable City in America tahun 2015, peringkat pertama!

Understand that you’ve been doing so much for the city, Tom. But, do you think you have lived enough life?” tanyaku. “Not quite” jawabnya singkat.

“Aku sudah bekerja untuk kota selama 42 tahun. Hampir sama dengan usia pernikahanku bersama Debbie. Selama itu pula aku harus selalu berada dekat dengan kota yang aku kelola. Debbie pernah pergi selama sebulan ke India, ke Eropa. Dan aku tak bisa menemaninya”.

“Jadi apa rencanamu dalam waktu dekat?” tanyaku penasaran. “Pensiun, dan pergi keliling Asia selama tiga bulan bersama Debbie. Aku akan menjadikan Jakarta sebagai hub dan menaruh barang-barangku di apartemenmu hahaha. Bagaimana kalau tahun 2017?”.

Kini justru aku yang tebengong-bengong. Ia begitu mantap dengan jawabannya. Dan untuk kesekian kalinya hari itu, keheningan yang berkuasa. Kami saling menyelami pemikiran diri masing-masing. Tentu Tom sedang membayangkan percikan air laut di wajahnya saat ia berperahu nelayan dikuntit lumba-lumba di Lembata. Lalu berjemur di Pink Beach dan menghabiskan sore hari mengejar Komodo di Pulau Rinca. Atau dia sedang memirip-miripkan sejuknya musim semi Iowa dengan udara saat menanti matahari terbit di Bromo. Mimpi-mimpi eksotis tentang perjalanan nusantara yang telah aku tanamkan di pikiran bawah sadarnya.

Apakah itu pula yang membuatnya mempercepat waktu meninggalkan pekerjaannya saat ini? Mmm, aku tak berani bertanya. Mungkin saja. Biarkan suatu hari nanti, matahari sunyi yang terbit di Timur Iowa City menjadi penanda lembaran baru kehidupannya.

Englert Theater, right at the City Center. A classical setting that host great events and speakers. I was fortunate to meet Seth Godin, here!
Englert Theater, right at the City Center. A classical setting that host great events and speakers. I was fortunate to meet Seth Godin, here!
Daily activities at PedMall. Artist painting at a community project called BenchMark 4.0.
Daily activities at PedMall. Artist painting at a community project called BenchMark 4.0.
My Iowan happy family.
My Iowan happy family.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s