Sebulan yang lalu, saya rencananya mau cuti, trekking ke Himalaya (Nepal). Harusnya mulai minggu ini, habis lebaran, 4 Oct hingga tiga minggu ke depan.
Semua sudah disiapkan, mulai dari buking kendaraan di Nepal, akomodasi, trekking guide/sherpa, hostel sampai pesawat yg bakal nganter ke basecamp Everest. Saya pesan Yeti Air, pesawat twin-otter kecil yang bisa sampai ke pegunungan tinggi dan mendarat di landing strip pendek, semacam bandara-bandara perintis di pedalaman Papua.
Jadwal keberangkatan 8 Oct 2008. 09:00AM-10:00AM Kathmandu – Tenzing-Hillary Airport (orang lokal menyebutnya Lukla, terletak di pegunungan Everest). Tenzing & Hillary sendiri adalah trekker yang tewas dalam kecelakaan pesawat di airport yang sama, beberapa dekade lalu.
Sangat exited, dan rencana ini juga saya ceritakan ke teman-teman, khususnya teman jalan seperti Jomima, my travel buddy.
Yang belum confirm adalah tiket pesawat dari Singapura – Kathmandu (Silk Air). Ketika booking secara online, internet tiba-tiba putus. Dan pas di cek kembali seat yang ada pada hari yang direncanakan sudah tidak tersedia. yah.. sayang sekali, padahal harga yang ditawarkan sangat-sangat menggiurkan. Tak lebih dari Sing Dollar 600/return trip. Harga yang sangat gila!
Pun harga yang lebih mahal sudah tidak tersedia. Mengingat Silk Air saat itu tidak terbang setiap hari ke Kathmandu, saya harus me-reschedule hingga hari Kamis minggu berikutnya. terpaksa itinerary di Nepal berantakan, terutama tiket pesawat lokal yang tidak bisa di-refund. Hotel dan sherpa masih bisa negosiasi ulang.
Pagi itu, 9 Oct, saat harusnya saya sudah mencium kabut pagi Everest, sebuah email mendarat di inbox, sari agen perjalanan yang mem-booking oesawat saya di Nepal, Hari Prasai namanya, dari Rhino Adventure Trek.
“Sir, the flight you have previously scheduled to board, Twin Otter Yeti Air has crashed in Lukla.The plane was caught in fire while trying to land amidst poor visibility due to fog and iffy weather. All 18 passengers and crew reported dead, including Evan, your team member along with 2 other Australian trekkers.”
….
A delay that saved my life!
Perjalanan selalu mengajarkan sesuatu yang kadang sukar kita mengerti dalam rutinitas sehari-hari.
VOA News link :
http://www.voanews.com/english/2008-10-08-voa8.cfm
Bangkok Post link :
http://www.axilltv.com/bkpost-2.php?newsid=346067

(untungnya di berita tersebut tidak ditulis : “there were two empty seats previously booked for Mr. … & Ms…. from Indonesia who canceled their trip due to broken flight itinerary.”
